§Manajemen Klasik atau Fungsional
Definisi Manajemen
menurut H. Koontz (1982) adalah proses merencanakan, mengorganisir, memimpin
dan mengendalikan kegiatan anggota serta sumber daya yang lain untuk mencapai
sasaran organisasi (perusahaan) yang telah ditentukan. Yang dimaksut dengan proses
adalah mengerjakan sesuatu dengan pendekatan tenaga, keahlian, peralatan, dana
dan informasi.
Fungsi manajemen menurut
pengertian di atas dapat diuraikan lebih lanjut sebagai berikut :
a. Merencanakan
Merencanakan berati memilih dan menentukan langkah –
langkah kegiatan yang akan datang yang diperlukan untuk mencapai sasaran.
Langkah pertama adalah menentukan sasaran yang hendak dicapai, kemudian
menyusun urutan langkah kegiatan untuk mencapainya. Jadi perencanaan
dimaksudkan untuk menjembatani antara sasaran yang akan diraih dengan keadaan
atau situasi awal. Salah satu kegiatan perencanaan adalah pengambilan
keputusan.
b. Mengorganisir
Mengorganisir dapat diartikan sebagai segala sesuatu
yang berhubungan dengan cara bagaimana mengatur dan mengalokasikan kegiatan
serta sumber daya kepada para peserta kelompok (organisasi) agar dapat mencapai
sasaran secara efisien. Pengaturan peranan
dijabarkan menjadi pembagian tugas, tanggung jawab dan otoritas. Atas
dasar pembagian tersebut selanjutnya disusun struktur organisasi.
c. Memimpin
Kepemimpinan adalah mengarahkan dan mempengaruhi
sumber daya manusia dalam organisasi agar mau bekerja dengan sukarela untuk
mencapai tujuan yang telah digariskan.
d. Mengendalikan
Mengendalikan adalah menuntun dalam arti
memantau, mengkaji, dan bila perlu mengadakan koreksi agar hasil kegiatan
sesuai dengan yang telah ditentukan. Dalam fungsi ini hasil pelaksanaan
kegiatan selalu diukur dan dibandingkan dengan rencana.
e. Staffing
Staffing meliputi pengadaan tenaga kerja, jumlah
ataupun kualifikasi yang diperlukan bagi pelaksanaan kegiatan termasuk
perekrutan, pelatihan dan penyeleksian untuk menempati posisi dalam organisasi.
§ Prinsip Manajemen Klasik
Beberapa prinsip
manajemen klasik yang penting diantaranya adalah :
a. Departementalisasi dan Spesialisasi
Pemisahan
kegiatan usaha atas dasar fungsi organik mendorong para pemimpin bidang
(departemen) yang bersangkutan untuk lebih memperhatikan masing – masing
bidangnya dibanding usaha koordinasi yang menyeluruh. Pembagian di atas akan
mendorong timbulnya departemen atau bidang yang mempunyai tenaga spesialis
dengan keahlian, latihan kerja dan pengalaman yang dipersiapkan dan
dipertahankan untuk jenis pekerjaan tertentu. Bila paket pekerjaan tertentu ini diserahkan kepada
departemen tersebut akan dapat diselesaikan secara efektif dan efisien.
b. Strutur Piramida
Struktur ini mengandung pengertian bahwa ukuran besar
kecilnya kompetensi sebanding dengan tinggi rendahnya tingkatan di lapisan yang
berjenjang dari organisasi tersebut. Tanggung jawab serta wewenang untuk
mencapai sasaran yang telah ditentukan sebelumnya diberikan kepada mereka
sesuai dengan posisi di jenjang hierarki. Semakin tinggi posisi, semakin besar
wewenang untuk mengambil keputusan. Pelaksanaan dan penjabaran keputusan
disampaikan ke bawah, sedangakn informasi dan laporan pelaksanaan diajukan ke
atas melalui lapisan birokrasi.
c. Otoritas dan Rantai Komando
Pola
otoritas mengikuti komando vertikal, mengalir dari jenjang teratas sampai
urutan terbawah. Bawahan menerima perintah dari dan melapor kepada hanya satu
atasan. Wewenang pejabat terbatas pada batas- batas area yang bersangkutan atau
didasarkan atas dokumen tertentu yang memberi penjelasan dan kewenangan khusus.
d. Pengambilan Keputusan dan Disiplin
Dalam hal pengambilan keputusan, titik berat
diarahkan untuk membina pejabat eksekutif agar dapat diserahi tanggung jawab
dalam mengambil keputusan. Disiplin akan tumbuh dari hasil kepemimpinan yang
baik, termasuk perhatian atas keinginan subordinat dan adanya penalti bila
terjadi pelanggaran.
e. Lini dan Staf
Pejabat Lini membuat keputusan – keputusan
sesuai dengan wewenangnya, sedangkan anggota staff memberikan nasihat hasil
dari pemikiran dan pengalamannya. Anggota staff tidak mempunyai wewenang
mengeluarkan perintah kepada pejabat lini.
f. Hubungan Atasan – Bawahan
Dengan pembagian otoritas yang berjenjang dan
jalur pelaporan satu arah, hal ini berarti keberhasilan kegiatan tergantung
pada hubungan antara atasan dengan bawahan. Keleluasaan ruang gerak bagi
bawahan untuk mengembangkan inisiatif dan mencipatakan suasana tumbuhnya
semangat kerjasama perlu mendapatkan perhatian dari pimpinan.
g. Arus Kegiatan Horisontal
Hubungan yang membuka arus kegiatan
horisontal dalam manajemen klasik terselenggara dalam berbagai bentuk, seperti
rapat koordinasi antar departemen, pembentukan komite dan panitia untuk
membicarakan dan membagi pekerjaan yang sifatnya memerlukan koordinasi yang
insentif.
h. Kriteria Keberhasilan dan Tujuan Tunggal
Perkembangan dunia usaha dewasa ini menuntut
agar disamping tujuan mencapai keuntungan , perlu diperhatikan pula faktor –
faktor lain, seperti pelestarian lingkungan, harapan keikutsertaan masyarakat
setempat untuk ikut memasok tenaga kerja dan material lokal.

0 komentar:
Posting Komentar